SEMAKIN TAHU SEMAKIN MERASA BODOH
Senin, 07 April 2014 - - 0 Comments
SEMAKIN TAHU SEMAKIN MERASA BODOH
Memang benar, semakin kita belajar
semakin kita mengerti bahwa ada
banyak hal yang tidak kita ketahui.
Itulah sebabnya mengapa para ulama
senior semakin hati-hati dan banyak
berkata la adri (saya tidak tahu) diusia
senjanya. Contoh yang paling dekat
adalah Syaikhuna Syaikh Abdul Muhsin
Al Abbad Al Badr -hafidzahullah- tak
terhitung berapa banyak beliau
mengatakan la adri.
Bahkan di antara ulama senior itu ada
yang tidak mau menjawab persoalan
dengan ijtihadnya, apalagi rela bila
orang lain beragama dengan hasil
ijtihadnya tersebut. Padahal
mengamalkan hasil ijtihad seorang alim
bukan sesuatu yang terlarang selama
ijtihadnya sesuai dengan kaidah-kaidah
syar'ie.
Dosen saya pernah bilang, "Di jagad
ilmu siapa yang tidak mengenal syaikh
Muhammad Al-Amin As-Syinqity..?
Siapa yang tidak mengenal keilmuan
beliau...?
Namun di akhir hayatnya
beliau memilih untuk mencukupkan diri
dengan menjawab permasaalahan yang
jawabannya secara tekstual termaktub
dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Bila
harus menjawab dalam persoalan
ijtihadiyah dia akan berkata, "Abu
Hanifah berkata, Malik berkata, Syafi'ie
berkata, Ahmad berkata, adapun aku
tidak mengatakan apa-apa. Kata-kata
itu tentunya lahir dari sifat wara beliau
setelah rihlah yang panjang dalam
menuntut ilmu''.
Sikap beliau -rahimhullah-
mengingatkan saya pada Tabiin yang
mulia Atha Ibnu Abi Rabah -
rahimahullah-. Ibnu Asaakir
meriwayatkan dalam taarikh Dimayq,
bahwa suatu saat beliau -rahimahullah-
pernah ditanya tentang suatu masaalah.
Maka beliau menjawab:
"Aku tidak tahu, penanya tadi berkata:
Tidakkah engkau mau mengutarakan
pendapat pribadimu dalam masaalah
ini..?
Atho menjawab:
ﺇﻧﻲ ﺃﺳﺘﺤﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻠَّﻪ ﺃﻥ ﻳﺪﺍﻥ ﻓِﻲ ﺍﻷﺭﺽ ﺑﺮﺃﻳﻲ
"Aku malu pada Allah, jika orang-orang
dimuka bumi ini beragama dengan
pendapatku"
Sudah selayaknya seorang ustadz atau
penuntut ilmu yang menjadi tempat
bertanya masyarakat umum selalu
melihat jauh ke arah kampung akhirat
yang menjadi tujuan.
Sangat perlu
baginya untuk bertanya kearah mana
fatwa-fatwa yang diucapkannya itu
kelak akan membawanya.? Setidaknya
pertanyaan ini akan membuatnya lebih
hati-hati serta tidak bermudah-mudah
dalam mengomentari masaalah yang
tidak diketahui duduk persoalanya.
Status ini bukan sebagai ajakan untuk
bersikap jumud, taqlid buta apalagi
menutup pintu ijtihad, sama sekali tidak.
Status ini adalah nasehat untuk saya
pribadi supaya lebih tau diri, tau kapan
harus diam dan kapan harus bicara, tau
mana tugas saya sebagai thulaib ilm dan
mana tugas ulama kibar.
Karena tidak semua masaalah harus
dikomentari.
Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib
This entry was posted on 22.47
You can follow any responses to this entry through
the RSS 2.0 feed.
You can leave a response,
or trackback from your own site.
0 komentar:
Posting Komentar